Skip ke Konten

Artikel

Mengenal Xanthorrhizol: Kandungan Aktif Utama Dari Temulawak


Author: apt. Shafina Putri Kamila, S.Farm. | Editor-in-Chief: Sandy Akbar Nusantara, S.T., M.B.A. | Published: 03 September, 2026


Siapa yang tidak kenal dengan temulawak? Tanaman herbal ini merupakan tanaman yang sangat dikenal di Indonesia dan sudah secara turun temurun digunakan sebagai obat herbal dan bahan utama jamu. Efektivitas temulawak dalam berbagai penggunaan herbal tentu disebabkan oleh berbagai senyawa yang terkandung di dalamnya. Salah satunya adalah Xanthorrizhol.

Temulawak dan Penggunaannya Secara Tradisional

Sebelum menggali lebih dalam mengenai senyawa Xanthorrizhol, mari kita kenali terlebih dahulu tentang tumbuhan yang menjadi sumber utamanya, Temulawak (Curcuma xanthorrhiza).

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) atau Java Turmeric merupakan tanaman yang tergolong dalam Zingiberaceae dan merupakan tumbuhan asli dari Indonesia yang saat ini dikultivasi juga di berbagai negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Tumbuhan ini dapat tumbuh di wilayah tropis dengan dataran rendah hingga ketinggian 2500 mdpl1. Bagian yang paling sering digunakan dari tumbuhan ini adalah rhizomanya. Rhizome temulawak secara tradisional digunakan untuk penanganan berbagai keluhan di antaranya adalah menangani diare, batuk, asma, meringankan nyeri pada sendi dan tulang, hingga menambah nafsu makan2.

Di Indonesia sendiri, temulawak dikenal sebagai salah satu bahan yang digunakan dalam membuat jamu. Dalam penggunaannya sebagai jamu, campuran temulawak dengan beberapa bahan herbal lainnya seperti kunyit, brotowali, dan sambiloto digunakan untuk mendapatkan beberapa efek kesehatan seperti menambah stamina, menyehatkan sistem pencernaan, dan menjaga imunitas1.

Senyawa Utama Temulawak: Xanthorrhizol

Xanthorrhizool merupakan senyawa sesquiterpenoid alami yang dapat ditemukan dalam hasil ekstraksi minyak atsiri rhizome temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dan dapat mencakup hingga 51% dari kandungan total minyak atsiri tersebut3. Xanthorrhizol dapat diisolasi dari minyak atsiri temulawak menggunakan beberapa cara seperti ekstraksi soxhlet dan supercritical fluid carbon dioxide extraction4. Xanthorrhizol yang sudah diisolasi memiliki wujud colorless oil5.

Selain pada Curcuma xanthorrhiza, Xanthorrhizol juga dapat ditemukan dalam rhizome beberapa tumbuhan lain dari spesies Curcuma seperti C. aromatica (rimpang temu putih), C. longa (kunyit), C. aeruginosa (temu hitam), dan C. angustifolia5.

Aktivitas dan Manfaat Farmakologis Xanthorrhizol

Tidak aneh jika temulawak sendiri sudah cukup dikenal memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan, karena berbagai penelitian lebih lanjut terkait manfaat tersebut baik secara in vivo maupun in vitro sudah banyak membuktikan kebenaran dan potensi dari efek-efek tersebut. Penelitian lebih mendalam terkait temulawak menunjukkan bahwa salah satu senyawa yang paling berperan dalam hal tersebut adalah xanthorrhizol.

Berdasarkan berbagai penelitian yang telah dilakukan serta penggunaannya selama ini, xanthorrhizol diketahui memiliki aktivitas yang cukup luas, di antaranya adalah aktivitas antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, antikanker, dan aktivitas protektif terhadap beberapa organ penting tubuh5. Oleh karena itu, pengembangan penelitian untuk lebih mendalami aktivitas tersebut terus dilakukan dengan harapan kita dapat menemukan lebih banyak cara untuk memanfaatkan potensi temulawak dan xanthorrhizol dengan lebih baik.

Potensi Antimikroba Xanthorrhizol

Xanthorrhizol diketahui menunjukkan aktivitas antimikroba. Terhadap bakteri gram positif, senyawa ini menunjukkan aktivitas yang ukup poten, namun terhadap bakter gram negatif, aktivitas yang terpantau lemah5.

Dalam sebuah review yang dilakukan untuk menilai potensi Xanthorrhizol dalam pencegahan caries gigi, senyawa ini diketahui menunjukkan efek inhibisi yang signifikan terhadap beberapa bakteri penyebab caries gigi seperti Streptococcus mutans, Streptococcus sanguinis, Enterococcus faecalis dan Bacillus cereus. Namun, senyawa ini tidak dapat menarget secara selektif antara mikroba buruk pada gigi dan mikroba baik dalam mulut6.

Xanthorrhizol juga diketahui efektif dan memiliki aktivitas rapid killing terhadap methicillin-susceptible strains dan methicillin-resistant strains dari S. aureus pada dosis terapeutik yang menunjukkan adanya potensi bagi xanthorrhizol untuk dikembangkan sebagai antibiotik terhadap S. aureus. Namun hal tersebut masih perlu pengkajian dan pengembangan lebih lanjut7.

Potensi Antikanker Xanthorrhizol

Kanker masih menjadi salah satu penyakit yang menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Oleh karena itu, penelitian untuk mendapatkan berbagai alternatif pengobatan dan penanganan kanker menjadi topik yang banyak diperdalam. Salah satu senyawa yang menjadi subjek penelitian terkait hal tersebut adalah xanthorrhizol yang sudah diketahui potensi antikankernya. Baik studi in vitro maupun in vivo dari xanthorrhizol telah mengonfirmasi aktivitas antiproliferatif, antiangiogenic, antimetastatic, dan apoptotic dari senyawa ini terhadap beberapa variasi sel kanker8.

Xanthorrhizol diketahui dapat secara signifikan menginhibisi pembentukan tumor nodule pada jaringan paru-paru dan pembentukkan massa tumor intra-abdominal. Sebuah pengujian menggunakan model tikus yang diinduksi colon cancer CT26 cells yang dapat menginduksi tumor pada paru-paru menunjukkan bahwa pemberian xanthorrhizol berhasil mengurangi pembentukan tumor nodules oleh induksi CT26. Berdasarkan data yang didapatkan dari penelitian tersebut, mekanisme anti-metastatic xanthorrhizhol diduga berkaitan dengan ekspresi COX-2 dan aktivitas MMP-99.

Penelitian lain yang menguji aktivitas xanthorrhizol terhadap cultured human colorectal cancer HCT 116 cells memberikan hasil yang menunjukkan bahwa konsentrasi rendah xanthorrhizol (hingga 50 mikromol) efektif dalam menginhibisi proliferasi sel dengan aktivitas sitotstatik, sementara konsentrasi yang lebih tinggi (di atas 50 mikromol) menunjukkan efek sitotoksik10.

Selain sebagai senyawa antikanker, xanthorrhizol juga diketahui memiliki potensi sebagai agen kemoprotektif terhadap cisplatin-induced toxicity pada hati dan ginjal di mana cisplatin merupakan salah satu obat yang umum digunakan dalam pengobatan kanker yang saat ini penggunaannya sangat terbatas karena toksisitasnya. Efek protektif ini diduga berkaitan dengan peram xanthorrhizol dalam inhibisi pada nuclear factor kappa B8.

Masih lebih banyak lagi penelitian yang telah dipublikasi terkait potensi xanthorrhizol, namun, perlu dicatat bahwa penelitian tersebut masih dalam tahap riset dasar. Pengaplikasian xanthorrhizol sebagai obat medis standar pada manusia tetap memerlukan uji klinis dan pengembangan yang lebih lanjut.


Sedang mencari senyawa marker Xanthorrhizol berkualitas tinggi untuk penelitian Anda?

Dapatkan produk yang Anda butuhkan dengan mudah. 

Klik tombol pembelian di bawah ini!



Referensi:

1.       Rahmat, E., Lee, J., & Kang, Y. (2021). Javanese Turmeric (Curcuma xanthorrhiza Roxb.): Ethnobotany, Phytochemistry, Biotechnology, and Pharmacological Activities. Evidence-based Complementary and Alternative Medicine, 2021, 1–15. https://doi.org/10.1155/2021/9960813

2.       Kustina, E., Zulharmita, Misfadhila, S. (2020). Traditional uses, Phytochemistry and Pharmacology of Curcuma xanthorriza Roxb.: a review. International Journal of Science and Healthcare Research, 2020: 5(3).

3.       Cheah, Y. H., Azimahtol, H. L. P., & Abdullah, N. R. (2007). Xanthorrhizol exhibits antiproliferative activity on MCF-7 breast cancer cells via apoptosis induction. PubMed, 26(6B), 4527–4534. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/17201174

4.       Oon, S. F., Nallappan, M., Tee, T. T., Shohaimi, S., Kassim, N. K., Sa’ariwijaya, M. S. F., & Cheah, Y. H. (2015). Xanthorrhizol: a review of its pharmacological activities and anticancer properties. Cancer Cell International, 15(1), 100. https://doi.org/10.1186/s12935-015-0255-4

5.       Simamora, A., Timotius, K. H., Setiawan, H., Yerer, M. B., Ningrum, R. A., & Mun’im, A. (2024b). Xanthorrhizol: Its bioactivities and health benefits. Journal of Applied Pharmaceutical Science. https://doi.org/10.7324/japs.2024.159484

6.       Khalid, G. S., Hamrah, M. H., Ghafary, E. S., Hosseini, S., & Almasi, F. (2021). Antibacterial and antimicrobial effects of xanthorrhizol in the prevention of dental caries: a systematic review. Drug Design Development and Therapy, Volume 15, 1149–1156. https://doi.org/10.2147/dddt.s290021

7.       Mordukhova, E. A., Kim, J., Jin, H., No, K. T., & Pan, J. (2024). The efficacy of the food-grade antimicrobial xanthorrhizol against Staphylococcus aureus is associated with McsL channel expression. Frontiers in Microbiology, 15, 1439009. https://doi.org/10.3389/fmicb.2024.1439009

8.       Simamora, A., Timotius, K. H., Yerer, M. B., Setiawan, H., & Mun’im, A. (2022b). Xanthorrhizol, a potential anticancer agent, from Curcuma xanthorrhiza Roxb. Phytomedicine, 105, 154359. https://doi.org/10.1016/j.phymed.2022.154359

9.       Choi, M., Kim, S. H., Chung, W., Hwang, J., & Park, K. (2004). Xanthorrhizol, a natural sesquiterpenoid from Curcuma xanthorrhiza, has an anti-metastatic potential in experimental mouse lung metastasis model. Biochemical and Biophysical Research Communications, 326(1), 210–217. https://doi.org/10.1016/j.bbrc.2004.11.020

10.  Kang, Y., Park, K., Chung, W., Hwang, J., & Lee, S. K. (2009). Xanthorrhizol, a natural sesquiterpenoid, induces apoptosis and growth arrest in HCT116 human colon cancer cells. Journal of Pharmacological Sciences, 111(3), 276–284. https://doi.org/10.1254/jphs.09141fp

 

   Editorial Team:

  1. Rafi Rif'atul Rizki, S.I.Kom.