Kafein: Struktur Kimia, Sumber Alami, dan Efek Samping yang Perlu Diketahui
Author: apt. Shafina Putri Kamila, S.Farm. | Editor-in-Chief: Sandy Akbar Nusantara, S.T., M.B.A. | Published: 1 Agustus, 2026

Hampir semua orang pasti familiar dengan kafein, senyawa yang terkenal ada dalam kopi, minuman yang saat ini sepertinya sudah menjadi bagian yang tak terhindarkan dari keseharian banyak orang. Namun, yang tidak terbiasa meminum kopi pun kemungkinan besar masih cukup dekat dengan kafein dalam kesehariannya karena kafein tidak hanya ada pada kopi. Kenyataannya, kafein juga ada dalam teh dan coklat. Sebenarnya siapa sih, kafein yang hampir dikonsumsi banyak orang setiap hari ini? Dan apa perannya dalam dunia kesehatan maupun dunia penelitian?
Struktur Kimia Kafein
Kafein memiliki banyak nama lain, di antaranya Guaranine, Theine, Methyltheobromine, atau 1,3,7-trimethylxanthine. Kafein merupakan senyawa golongan alkaloid dan merupakan turunan methylxanthin1. Secara struktur kimia, kafein memiliki basis purin yanfg membuatnya memiliki kemiripan secara struktur dengan senyawa purin dan turunan purin lainnya seperti adenine dan guanine yang termasuk senyawa pembentuk DNA dan RNA hingga asam urat yang merupakan senyawa yang terbentuk dari pemecahan purin. Selain itu, kafein juga memiliki kemiripan secara struktur dengan senyawa-senyawa xanthine alami seperti theobromine, theophylline, dan paraxanthine2.
Kafein memiliki sifat termostabil sehingga tidak rusak oleh panas. Sifat inilah yang menyebabkan kandungan kafein pada kopi tidak rusak atau menghilang bahkan setelah biji kopi dibakar untuk dijadikan bahan minuman kopi3.
Sumber Kafein Alami maupun Dalam Keseharian
Tanaman yang paling dikenal sebagai sumber kafein adalah tanaman kopi atau Coffea sp. Namun, secara keseluruhan kafein sebenarnya dapat ditemukan dalam lebih dari 60 spesies tumbuhan, di antaranya tanaman kopi (Coffea sp.), teh (Camellia sinensis L.), coklat (Theo-broma cacao), tanaman guarana (Paullinia cupana), dan banyak lagi3.
Dalam keseharian, konsumsi kafein pada masyarakat paling banyak berasal dari minuman. Berdasarkan survey yang diadakan oleh National Health and Nutrition Examination Surveys pada tahun 2011–2012, konsumsi harian kafein pada kelompok anak-anak dan remaja (15-19 tahun) berasal dari kopi (24,9%), teh (27,9%), minuman soda (32,9%), minuman penambah energi (10,0%), makanan (3,4%), dan minuman lainnya (0,9%), sementara untuk kelompok dewasa (35-49 tahun), sumber konsumsi kafein harian didapatkan dari kopi (65,0%), teh (16,0%), minuman soda (16%), serta sumber lainnya (3%)4.
Efek Farmakologis Kafein
Kafein memiliki efek farmakologis yang cukup signifikan. Bahkan, terdapat pula obat yang menggunakan kafein sebagai senyawa aktifnya. Kafein digunakan sebagai senyawa aktif pada berbagai obat antinyeri karena kafein memiliki aktivitas vasokonstriksi dan anti-inflamasi yang dapat mengiringi aktivitas analgesik dalam obat antinyeri5.
Selain penggunaannya dalam obat, penggunaan kafein paling umum dalam keseharian adalah sebagai penghilang rasa kantuk, yang biasa dilakukan dengan mengonsumsi minuman kopi. Hal ini berkaitan dengan peran kafein sebagai central nervous system (CNS) stimulant. Pada otak, kafein dapat menjadi antagonis kompetitif terhadap efek adenosine. Adenosine dan reseptor adenosine sendiri meregulasi pelepasan neurotransmitter dan memiliki peran penting dalam regulasi tidur dan aktivitas kognitif6.
Pengendalian Kadar Konsumsi Kafein
Meski bermanfaat, konsumsi kafein tetap perlu dikendalikan. Efek samping seperti kecemasan, insomnia, dan agitasi psikomotor bisa muncul jika kafein dikonsumsi secara berlebihan. Efek toksik diperkirakan mulai terlihat pada konsumsi di atas 1,2 gram, sementara dosis 10–14 gram dianggap fatal4.
Namun, jangan khawatir, angka tersebut sangat besar dibandingkan kandungan kafein dalam produk sehari-hari. Sebagai gambaran, kisaran kandungan kafein dalam beberapa minuman yang sering dijumpai adalah sebagai berikut7:
- Kopi (240 mL): 76–112 mg
- Teh (240 mL): 25–130 mg
- Minuman bersoda (240 mL): 23–27 mg
- Minuman energi (240 mL): 72–80 mg
Karena pentingnya memperhatikan jumlah kafein yang dikonsumsi dalam satu hari, makanan yang mengandung kafein juga perlu memperhatikan kadar kafein yang ada dalam satu takaran sajinya. Metode yang populer untuk menentukan kadar kafein dalam berbagai medium di antaranya adalah HPLC, Spektroskopi UV/Vis, kromatografi lapis tipis, dan kromatografi ion8.
Sedang mencari senyawa marker Phyllanthin berkualitas tinggi untuk penelitian Anda?
Dapatkan produk yang Anda butuhkan dengan mudah.
Klik tombol pembelian di bawah ini!
Referensi
1. Reddy, V. S., Shiva, S., Manikantan, S., & Ramakrishna, S. (2024). Pharmacology of caffeine and its effects on the human body. European Journal of Medicinal Chemistry Reports, 10, 100138. https://doi.org/10.1016/j.ejmcr.2024.100138
2. Faudone, G., Arifi, S., & Merk, D. (2021). The medicinal chemistry of caffeine. Journal of Medicinal Chemistry, 64(11), 7156–7178. https://doi.org/10.1021/acs.jmedchem.1c00261
3. Portillo, O. R., & Arévalo, A. C. (2022). Caffeine. A critical review of contemporary scientific literature. Bionatura, 7(3), 1–15. https://doi.org/10.21931/rb/2022.07.03.16
4. Van Dam, R. M., Hu, F. B., & Willett, W. C. (2020). Coffee, caffeine, and health. New England Journal of Medicine, 383(4), 369–378. https://doi.org/10.1056/nejmra1816604
5. Temple, J. L., Bernard, C., Lipshultz, S. E., Czachor, J. D., Westphal, J. A., & Mestre, M. A. (2017). The Safety of Ingested Caffeine: A Comprehensive review. Frontiers in Psychiatry, 8, 80. https://doi.org/10.3389/fpsyt.2017.00080
6. Fiani, B., Zhu, L., Musch, B. L., Briceno, S., Andel, R., Sadeq, N., & Ansari, A. Z. (2021). The neurophysiology of caffeine as a central nervous system stimulant and the resultant effects on cognitive function. Cureus, 13(5), e15032. https://doi.org/10.7759/cureus.15032
7. Heckman, M. A., Weil, J., & De Mejia, E. G. (2010). Caffeine (1, 3, 7‐trimethylxanthine) in Foods: A Comprehensive review on consumption, functionality, safety, and regulatory matters. Journal of Food Science, 75(3), R77-87. https://doi.org/10.1111/j.1750-3841.2010.01561.x
8. Grujić-Letić, N., Rakić, B., Šefer, E., Milanović, M., Nikšić, M., Vujić, I., & Milić, N. (2016). Quantitative determination of caffeine in different matrices. Macedonian Pharmaceutical Bulletin, 62(1), 77–84. https://doi.org/10.33320/maced.pharm.bull.2016.62.01.007
Editorial Team:
- Rafi Rif'atul Rizki, S.I.Kom.
